Etika Bisnis
Pengaplikasian etika bisnis adalah hal yang tidak dapat dihindari, seorang manajer harus terus menyeimbangkan antara kebutuhan organisasi dengan kebutuhan stockholder. Hal pertama yang harus diakui adalah adanya problem dengan etika. Tidak hanya masalah arogansi dan imoral tapi juga eksekutif yang semangkin rakus.
Tekanan etika bisnis kadang datang dari konflik antara kepentingan perusahaan dan karyawannya, pelanggan dan masyarakat, seperti :
§ Disatu sisi, masyarakat ingin agar perusahaan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dengan bayaran yang baik, disisi lain perusahaan ingin membatasi biaya kompensasi, dan meningkatkan tingkat produktifitas.
§ Pelanggan ingin membeli barang dan jasa dengan harga terendah, tapi bisnis ingin memaksimumkan keuntungan.
§ Masyarakat ingin agar tingkat polusi dapat dikurangi, tapi bisnis ingin meminimumkan biaya lingkungan yang bertambah karena adanya peraturan yang harus dilaksanakan dalam operasi perusahaan.
Konflik tersebut merupakan hal yang wajar di dalam dunia bisnis, maka manajer harus secara berkasinambungan menyeimbangkan kebutuhan organisasi dan stockholders dengan kebutuhan stakeholder lainnya, termasuk pekerja, pelanggan dan komunitas yang lebih besar. Manajer juga harus menyeimbangkan kebutuhan dan harapan personal dengan organisasi. Bisnis dan pemimpin Human Resources (HR) dapat membuat model prilaku dan menciptakan praktek corporate yang dapat mengurangi praktek bisnis yang tidak etis bahkan pada saat yang bersamaan membuat perusahaan semangkin bersaing di pasar. Untuk membicarakan masalah etika, pertama-tama manajer harus memahami bahwa konflik kepentingan telah ada. Walaupun konflik itu datang dari berbagai sumber, namun yang terpenting adalah manajemen itu sendiri. Studi menemukan bahwa kombinasi ketakutan pegawai akan kehilangan pekerjaannya dan loyalitas kepada organisasi, supervisor dan rekan kerja menjadikannya tidak melakukan apa-apa dalam menghadapi berbagai masalah praktek bisnis ini.
Peran HR
Dalam lingkungan etika yang dikendalikan oleh praktek kepemimpinan dan dengan inisiatif perusahaan, HR memiliki empat yanggung jawab, sebagai berikut :
1. HR profesional harus membantu memastikan bahwa masalah etika merupakan prioritas utama bagi organisasi. Pat Wright menyatakan bahwa dalam skandal bisnis, pemimpin HR akan mengambil peran yang lebih besar dalam memantau budaya organisasi dalam hal status etika. Eksekutif HR harus menggunakan jaket sebagai ethical champion atau memastikan orang lain yang capable di dalam organisasi untuk melakukannya. Seorang pemimpin (champion) itu akan membutuhkan pengalaman yang tinggi dan dihargai, serta memiliki cukup pengaruh organisasi untuk membuat perbedaan.
2. HR harus memastikan bahwa seleksi kepemimpinan dan proses pengembangan harus memasukan komponen etika. Pemimpin disemua tingkatan dalam organisasi memerlukan dua hal, baik model prilaku etika maupun standar komunikasi etika kepada karyawan. Dari aspek yang paling sulit, meyakinkan pimpinan manajemen, mungkin termasuk anggota Direksi adalah meyakinkan mereka bahwa merekapun harus mengikuti pelatihan mengenai etika. Prosedur seleksi harus menyaring dengan memasukanmasalah etika. Pengembangan pemimpin tidak hanya dengan teori tapi juga contoh-contoh yang atau pengalaman manajer dalam masalah etik pada masa lampau. 3. HR bertanggung jawab untuk memastikan adanya program dan kebijakan yang benar. HR profesional juga harus, tentu saja menyadari bahwa kebijakan ini harus mengacu pada peraturan pemerintah yang berlaku.
4. HR harus selalu mengikuti isu-isu mengenai etika. Ini tidak berarti hanya mengikuti ketentuan hukum yang cenderung reaktif dari pada proaktif. Maksudnya melihat keseluruhan lingkungan bisnis dan sosial dan fokus pada konflik kepentingan dan problem etika lainnya sebelum berkembang menjadi sekandal.
Masa Depan Etika dan nilai sekarang menjadi lebih penting dibandingkan masa tahun 1990an, namun demikian tidak secara otomatis membawa ke era baru stabilitas jangka panjang. Proses ini akan datang dengan cepat karena lingkungan sosial dan teknologi saat ini. Walaupun prediksi mengenai etika bisnis ini harus dilihat secara skeptif yang sehat, beberapa kecenderungan yang timbul dalam tahun belakangan ini menunjukan adanya dampak pertumbuhan pada masa depan etika bisnis. Beberapa yang harus diperhatikan : 1. Globalisasi akan menimbulkan tantangan-tantangan etikaPerusahaan global yang beroperasi di berbagai negara dimana penyuapan, pelecehan seksual, diskriminasi rasial, dan isu lainnya tidaklah secara serempak sebagai melanggar hukum atau bahkan tidak etis (Kelly, 2001). Perusahaan akan mempersiapkan untuk memperjuangkan dalam menjaga standar etika perusahaan di lingkungan ini. Perdagangan global dan regional dan kesepakatan buruh akan secara meningkat mencipatkan norma etika yang berlaku di seluruh dunia, tapi ini tidak akan cepat dan mudah. Sebelum ini terjadi, budaya dasar etika akan bertempur diantara multinasional. Sedangkan perang dagang akan bertampur baik antara negara maupun antar region. Semangkin cepat kita menciptakan norma internasional akan semangkin baik. Jika tidak, perang yang sesungguhnya akan terjadi dalam pertempuran berdasarkan konflik perbedaan cara pandang.
2. Transparansi akan menjadi lebih penting Dengan pertumbuhan dalam sejumlah bisnis, dengan hotlines karyawan dan perlindungan yang lebih besar kepada whistleblower, penipuan akan terus dilihat sebagai pelanggaran etika yang terburuk. Dalam sistem socioeconomic global mendasarkan pada informasi yang dapat dipercaya, penipuan dapat mengakibatkan kerugisn biaya untuk pelanggan dan investor milyaran dollar.Kemampuan bertahan (sustaiability) akan menjadi bagian dari status qou
3. Dalam rangka menyeimbangkan kebutuhan lingkungan bisnis dan masyarakat, banyak perusahaan telah mencoba mengukur tampilan jangka panjang organisasinya dengan melihat dari sisi ”sustainability”. Satu aspek ”sustainability” menekankan pada isu lingkungan, ini lebih menjadi prioritas di Eropa dan Amerika. Dimasa yang akan datang, akan ada debat yang serius untuk menyepakati etika lingkungan. Pada saat yang sama, terjadi perebutan mengekplorasi sumber daya yang terbatas (baik minyak maupun air bersih) .
4. Keagamaan di tempat kerja akan tumbuhPertumbuhan kegiatan keagamaan di kantor akan bertumbuh dan menjadi ”megatrend” (Lampman, 2003). Sampai taraf tertentu, ini mengenai membuat tempat kerja lebih bersahabat dengan keagamaan. Jika kecenderungan tersebut terus bertumbuh, fokus yang lebih kuat dalam nilai-nilai keagamaan dapat menurunkan masalah etika yang telah menyusupi budaya perusahaan sebelumnya.
5. ”Metacovergence” akan mempengaruhi nilai perusahaan/ sosialMenurut futuristik Alvin dan Heidi Toffler, proses metacovergence merupakan tingkat yang lebih tinggi….. dari teknologi dengan budaya, termasuk agama, epistemology, dan kehidupan intelektual. (Toffler Toffler, 1999). Teknologi baru tidak hanya mempengaruhi cara kita menjalankan pekerjaan dan waktu luang kita, namun juga mempengaruhi cara kita berpikir mengenai dunia.


